Archive | curhat RSS feed for this section

Chester Bennington

23 Jul

Hari jumat kemarin, 21 Juli 2017, adalah hari yang kelam buat saya (dan seluruh dunia). Baru kali kematian selebritis bisa begitu nyesek. Berita kematian selebritis adalah hal yang biasa terjadi. Orang datang dan pergi. Tapi untuk orang yang satu ini, berbeda. Dia adalah Chester Bennington, vokalis Linkin Park.

@chesterbe

Jika anda adalah generasi 90an yang berusia diantara pertengahan 20an sampai 30, pasti mengenal Linkin Park. Mereka band yang sangat masif di awal 2000an. Dimana diwaktu itu adalah eranya generasi 90an memasuki masa remaja. Masa ketika mereka bertransisi dari anak-anak menuju dewasa. Dimana mereka meninggalkan idola masa kecil mereka dan beranjak ke idola yang relevan dengan mereka.

Masa remaja adalah pada umumnya adalah fase paling labil yang dialami manusia. Masa yang katanya pencarian jati diri. Di saat itu lah Linkin Park menginspirasi kehidupan jutaan remaja di seluruh dunia. Walaupun saya sendiri saat itu tidak terlalu begitu paham 50% lirik-liriknya, tapi entah kenapa lagu-lagu mereka bisa begitu relevan. Kita bisa mendengarkan “kemarahan” khas remaja. Terutama di lagu Crawling yang melambungkan nama mereka. Lagu ini adalah lagu pertama Linkin Park yang saya dengar. Baru beberapa tahun kemudian saya tahu kalau lagu ini adalah pengalaman Chester yang memiliki masa lalu yang kelam.

Jika diperhatikan, banyak lagu Linkin Park cerita tentang perjuangan personal dari Chester. Dari beberapa wawancara, Chester sering bercerita di masa mudanya, dia pernah menjadi korban pelecehan seksual temannya, korban bullying, dan menjadi pemakai obat-obatan terlarang. Singkat cerita, banyak remaja di seluruh dunia yang merasa bahwa lagu-lagu Linkin Park telah membantu mereka melewati masa-masa kelam.

Buat saya sendiri, walaupun hidup normal-normal saja dan tanpa lika-liku yang tragis, Linkin Park sudah menjadi bagian dari masa remaja saya. Ada sekitar 3-4 poster Linkin Park di kamar, untuk menunjukkan betapa “cool” dan “edgy” saya waktu itu. Di era youtube belum ada dan google baru memulai perjalanannya, MTV adalah tontonan wajib saya untuk selalu update berita idola. Istilah kerennya waktu itu adalah anak nongkrong MTV. Dan tak lupa koleksi kaset 3 album pertama mereka, Hybrid Theory, Reanimation (remix Hybrid Theory), Meteora. Ya, KASET!! Jaman itu masih relevan.

Sayangnya 3 kaset itu tidak bisa saya tunjukkan karena berada di rumah orang tua. Saya tampilkan saja gambar dari teman. Kira-kira seperti itu kasetnya, ditambah album paling populer mereka Hybrid Theory. Hampir tidak ada yang tidak tahu siapa Linkin Park. Begitulah kira-kira gambaran masifnya LP di awal 2000.

Maju di tahun 2007, Linkin Park telah banyak berubah. Mereka telah meningkalkan nu metal yang melambungkan namanya. Banyak fans yang kecewa dan meninggalkan mereka. Tak sedikit pula yang bertahan. Saya adalah salah satu yang bertahan. Saya terus mengikuti naik turunnya mereka. Pergantian genre ke alternatif di album ke-3 mereka, Minute to Midnight. Yang paling kukenang dari album ini adalah waktu rilisnya 14 Mei 2007. Pada tanggal 12 Mei 2007, beberapa hari setelah UAN/UAS SMA, saya harus meninggalkan kota Bontang menuju Surabaya untuk melanjutkan kuliah. Lebih tepatnya adalah mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan seleksi masuk perguruan tinggi (waktu itu namanya SPMB).

Mendengar lagu What I’ve Done, saya merasa kembali di saat-saat saya harus ekstra keras belajar siang & malam agar bisa diterima PT pilihan saya, ITS jurusan Teknik Informatika. Yang katanya passing gradenya lebih tinggi dari FK Unair. Dan Alhamdulillah, saya diterima. Ditambah lagi deretan lagu Leave out all the rest, Bleed it out, In Pieces, dan lainnya, mengingatkan kenangan betapa kesepiannya saya ketika awal menginjakkan kaki di Surabaya.

Dan terus ke album selanjutnya A Thousand Suns, Living Things, The Hunting Party, dan One More Light saya selalu antusias mengikuti. Kalau harus diceritakan satu persatu kenangannya disini, bakal ga ada habis-habisnya. Ketika jumat pagi, 21 Juli 2017, saya mengecek instagram, muncul post dari akun LP ini.

A post shared by LINKIN PARK (@linkinpark) on

Aku kira hanya gambar biasa Linkin Park sampai melihat komentar-komentarnya. Ada apa dengan Chester? Orang yang telah mengisi masa mudaku telah tiada karena gantung diri. Pada hari itu juga mood langsung ga enak sepanjang hari. Rasanya seperti kehilangan seorang teman lama. Sulit untuk memahami bagaimana mungkin seorang menginspirasi jutaan anak muda, ternyata juga sangat rapuh di dalam.

Entah bagaimana kelanjutan Linkin Park tanpa Chester. Menurutku, meninggalnya Chester adalah akhir dari Linkin Park. Mereka telah solid bersama selama hampir 2 dekade. Ketika ada 1 bagian yang hilang, maka sulit untuk melihat Linkin Park yang dulu. Mungkin mereka bisa meniru RATM, ketika sang vokalis pisah jalan, 3 personel lainnya memutuskan membentuk band baru dengan vokalis baru dengan nama Audioslave. Kebetulan vokalisnya adalah Chris Cornell, sahabat Chester, yang juga baru 2 bulan lalu meninggal dengan cara yang sama, gantung diri. Menurut berita, menjadi salah satu sebab Chester bunuh diri juga. Apapun keputusan mereka, saya akan tetap menjadi fans Linkin Park.

Lagu ini adalah salah satu lagu favorit LP. Mendengar lagi lagu ini, menimbulkan perasaan yang berbeda. Rasanya seperti mendengar suicide note dari Chester.

When my time comes
Forget the wrong that I’ve done
Help me leave behind some
Reasons to be missed
And don’t resent me
And when you’re feeling empty
Keep me in your memory
Leave out all the rest
Leave out all the rest

Selamat jalan Chester Bennington.

Advertisements

Spontan

1 May

Ini bukan mau ngebicarain acaranya Komeng yang ngehits di tahun 90an (uhuy!). Tapi ini adalah cerita pengalaman saya minggu lalu.

Hari Sabtu, 16 April 2016, seperti biasa saya melakukan rutinitas. Sabtu ini suasana lagi sepi, soalnya banyak temen yang lagi pulkam. Tiba-tiba ada watsap dari Jamal yang isinya seperti ini.

Supp bruh, DO U CoM 2 Silvi’s wedding? (isi teks hanya ilustrasi)

Saya ga inget klo hari itu ada nikahan seorang teman jaman kuliah. Akhirnya setelah debat panjang, kami sepakat untuk kumpul dulu di suatu studio teman bernama ElvenGames. Kumpul jam 6 abis magrib.

Di Elven, ada 3 teman lain yang sedang main & nonton DoTA2. Jadi mereka males ga bisa ikut. Padahal jarak lokasinya hanya sepelempar batu.

Okelah akhirnya saya & Jamal pergi ke Gedung Robotika ITS, tempat resepsi.

robot-wedding-2-634x422

Gedung Robot yang bisa dipake buat acara nikahan

Ternyata ada satu teman lagi hadir ke acara nikahan. Jauh-jauh datang dari Jember, namanya Gama, sang kapten masa depan. Untung saja masih ada teman kuliah cewek yang datang, jadi kami enggak mati gaya.

Lanjut beberapa menit kemudian, kami akan pulang kembali ke pasangan masing-masing (yang mana sebenarnya 3 orang ini ga punya). Awalnya cerita akan berakhir disini. Namun, entah kenapa saya & Jamal memaksa Gama untuk ikutan ke Elven. Motor saya dititipin disana, jadi harus balik kesana dlu.

Akhirnya setelah panjang lebar berdebat kusir, Gama mau diajak ke Elven. Maka akhirnya kami cerita panjang lebar nostalgia masa kuliah. Oke waktu telah menunjukkan pukul 22.00, harus segera pulang, jika tidak mama akan marah.

Di saat mau pulang, aku bilang biasanya kalo hari minggu jogging di CFD Darmo. Sebelum pulang, akhirnya kami bertiga sepakat untuk ketemuan lagi besok untuk CFD-an.

Keesokan harinya, Gama & Jamal datang jam 6 pagi kumpul ditempatku di area Ngagel.Β  Lalu lanjut jogging & ikutan senam zumba. Acara selesai, pulang jam 9. Kami ngobrol-ngobrol santai. Harusnya sudah berakhir sampai sini. Gama tiba-tiba mengajak nonton The Jungle Book. Terutama karena lokasiku yang dekat dengan Marvell, mall yang baru buka. (Di Blitz Marvell ini satu-satunya aku pernah nonton ke bioskop jalan kaki).

Sebenarnya lagi agak males nonton. Tapi berhubung Gama lagi kebelet pengen nonton, ya akhirnya saya iya-kan. Lagipula sore itu dia harus kembali ke Jember. Mungkin di Jember ga ada beoskop.

Kali ini hanya saya & Gama, soalnya Jamal harus menghadiri pernikahan temannya yang lain. Tahun ini lagi musim kawin teman-teman seusiaku. Di usia 26-27 memang seyogyanya kalian nikah.

Di saat yang lain berkumpul bersama pasangan masing-masing, saya disini sedang menulis blog yang mungkin ga akan ada yang baca kecuali orang ini –> http://dnwahyudi.com/

maxresdefault

me_irl

Ok, back to topic. Gama memilih jam 11 siang, karena biar ga mepet sama keberangkatan keretanya jam 4 sore. Jamal & Gama pulang ke tempat masing-masing. Gama akan kembali ke tempatku jam setengah 11.

Hari minggu adalah waktunya cuci baju & cuci kucing. Karena waktu itu hujan turun saya tunda dulu cucinya. Badan lumayan capek, saya berbaring lantai & ketiduran.

Bangun-bangun, Gama sudah datang. Jam telah menunjukkan jam 11 kurang 15 & masih hujan. Wah ga bakal sempet nonton jam 11 ini. Kami pun mengganti lokasi & jadwal ke TP jam 12.15.

Saya mandi dulu & cuci baju (ini tidak penting). Filmnya lumayan bagus, The Jungle Book, yang disutradarai oleh Jon Favreau (Iron Man, Chef). Film selesai, saatnya pulang. Tapi lagi-lagi tidak, sodara2!

Gama bilang dia masih punya saldo Rp40.000 sebuah wahana di TP (aku lupa namanya, semacam temjon). Dia lagi pengen nyoba lagi wahana perahu yang digoyang-goyang itu lho. Kalo di dufan namanya kora-kora. Tidak seekstrim kora-kora, tapi tetep bikin jantung dagdigdug.

Sebelum menuju lokasi, tiba-tiba saja saya pengen ke Matahari. Mumpung lagi di sana, dari kemarin mau cari celana pendek. Selesai menemukan apa yang dicari, kami lanjut ke wahana itu.

Niatnya cuma naik kora-kora, tapi malah keterusan nyoba yang lain. Bablas sampai magrib. Gama memutuskan untuk naik kereta malam. Karena uda magrib, kami sholat di lantai atas Tunjungan Plasa.

Lagi-lagi, Game mendapat ide untuk pergi ke pameran wisata (WTF!!) di Grand City. Dari TP, perjalanan lanjut ke Grand City. Demi apa coba aku datang ke pameran.

Badan uda letih, lelah, & capek. Tak boleh ada lagi tujuan selanjutnya. Dan kami pun kembali ke tempat masing-masing.

TL;DR : seharusnya malam minggu setelah nikahan teman, pulang ke rumah masing-masing. Tapi muncul ide spontan, dan akhirnya baru berpisah sehari kemudian.

Sekian cerita ini.

nb: Cerita terjadi 2 minggu lalu, ditulis seminggu lalu, tapi baru sadar belum dipublish, jadi baru tayang hari ini (May Day 2016).

Hindari pikiran negatif

3 Apr

Kita semua pasti pernah punya pengalaman melihat sesuatu selalu negatifnya. Hanya dari buruknya tanpa melihat sama sekali hal positifnya. Seperti permasalahan apakah dia melihat gelas setengah penuh atau gelas setengah kosong. Dua hal yang sebenarnya sama aja, tapi secara psikologis 2 reaksi yang berbeda. Optimis & Pesimis.

Di TEDx Talks ini, Alison Ledgerwood berbicara tentang psikologis orang-orang yang berpikiran negatif.

Dia mengambil contoh penelitian, dibagi menjadi 2 grup yang akan diberi data yang sama. Grup A mendapat hasil data 40% keberhasilan. Grup B mendapat data 60% kegagalan. Maka grup A akan merespon dengan positif sedangkan grup B dengan negatif.

Kemudian percobaan dilanjutkan dengan grup A diberi data 60% kegagalan dan grup B 40% keberhasilan. Hasilnya adalah respon grup A menjadi negatif. Dan ternyata grup B tidak berubah positif, tetapi tetap menjadi negatif. Karena untuk merubah pikiran positif menjadi negatif lebih gampang daripada merubah pikiran negatif ke positif.

Inilah salah satu fenomena yang lagi ngehits di kehidupan modern ini, yang disebut haters. Terutama yang paling sering muncul di facebook adalah barisan sakit hati akibat pemilu. Biasanya kalau sudah mulai muncul di fb, maka segera ku block saja karena hal negatif gampang menular, bikin bad mood, dan merusak produktivitas. (nb: saya bukan pendukung salah satu 2 orang itu).

Maka berhati-hatilah & stay positive!

Hints on English pronunciation

20 Dec

Klo diperhatikan bahasa inggris termasuk bahasa yg ga konsisten dalam pengucapan kata. Misalnya bagaimana kita tau kalau red itu dibaca ‘red’ atau ‘rid’. Mungkin untuk kata red gampang karena merupakan kata yg familiar. Entah bagaimana dengan kalimat baru yg tidak familiar. Aku ingat dulu waktu masih kecil, keheranan dengan cara pengucapan “enough”. Kata ini pertama saya temukan di film James Bond, “The world is not enough”.

Gimanapun juga, ketidakkonsistenan bahasa adalah kewajaran. Banyak kata bahasa inggris yg merupakan serapan bahasa lain dan harus ikut aturan main bahasa lain itu. Sama seperti yg terjadi di bahasa Indonesia. Coba lihat nama stasiun TV mana yang ada huruf “TV” yang pengejaannya benar sesuai bahasa Indonesia. Cuma SCTV (eSCeTeVe) yang benar. Yang lainnya salah karena mengeja TV dengan “tivi”. Tapi berhubung TV adalah kata dari bahasa Inggris, maka biasanya orang lebih familiar ejaan luarnya.

Tapi kalau kata orang sih, bahasa Inggris bukan bahasa tersusah yang dipelajari. Jadi jangan mengeluh bahasa Inggris susah. Padahal kita sudah di jaman internet. Mayoritas ditulis dengan bahasa Inggris.

Mari kita tutup tulisan ini dengan “Hints on English pronunciation”

I take it you already know
Of tough and bough and cough and dough?
Others may stumble, but not you,
On hiccough, thorough, lough and through?
Well done! And now you wish, perhaps,
To learn of less familiar traps?
Beware of heard, a dreadful word
That looks like beard and and sounds like bird,
And dead: it’s said like bed, not bead —
For goodness sake don’t call it ‘deed’!
Watch out for meat and great and threat
(They rhyme with suite and straight and debt).
A moth is not a moth in mother,
Nor both in bother, broth in brother,
And here is not a match for there
Nor dear and fear for bear and pear;
And then there’s dose and rose and lose —
Just look them up — and goose and choose,
And cork and work and card and ward,
And font and front and word and sword,
And do and go and thwart and cart —
Come, come, I’ve hardly made a start!
A dreadful language? Man alive!
I’d mastered it when I was five!

25

14 Mar

Tahun ini usia saya menjadi 25 tahun. Dan kebetulan page view blog ini sekarang sudah 25.000an.. Horee..

25.000

25.000

Udah? Segitu aja postingan ini. Sekian.

Cerita pagi

27 Feb

Masak memasak jadi kegiatan kami berempat di kontrakan. Kalau dulu dari jaman kuliah, kalau makan harus pergi ke warung, mulai tahun ini kami mencoba memasak untuk menghemat APBN. Karena hidup semakin susah. lol

Mengais rejeki

Mengais rejeki

Pada suatu pagi, salah seorang teman saya mendapat giliran belanja ke pasar. Rumah kami sangat dekat dengan pasar. Lalu terjadilah percakapan yang kurang lebih maksudnya begini :

Ibu Penjual (I) : Yang masak siapa mas?

Teman (T) : Saya sendiri bu.

I : Lho, kok masak sendiri, istrinya kemana?

T : …….

meme4

Kenangan Tahun Baru (3)

5 Feb

Akhirnya kita ada di artikel terakhir dari serial trilogi epik pengalaman saya. Maafkan saya fans2ku disana, jarak antara postingan kedua & ketiga terlalu lama. Ada satu hal dan lainnya sehingga saya tidak meneruskan kisah terakhir dari petualangan ini.

Beberapa hal tersebut adalah di bulan kemarin, studio saya harus pindahan dari Gunung Anyar ke Peneleh deket kuburan Belanda.

Berantakan pindahan studio.

A post shared by Ahmad Rifai (@ahmadorifai) on

Nah sampai 2 minggu tinggal disana, kami harus tinggal tanpa internet karena urusannya yang ribet. Biarpun di tengah kota, tapi rasanya seperti di pedalaman kalau tidak ada internet.

yearOkelah mungkin itu dulu basa-basinya. Langsung kita kembali ke topik utama. Bagi yg belum baca 2 tulisan pertama,bisa dilihat bagian pertama dan kedua ini. Bagian ketiga ini adalah fase setelah saya lulus dari ITS Informatika dan melanjutkan hidup di Surabaya.

Continue reading