Makintau : Belajar dari Pram (3)

16 Apr

Kita sampai di bagian terakhir dari seri tulisan ini. Bagi anda yang ketinggalan tulisan sebelumnya, silakan dibaca dulu bagian 1 dan bagian 2. Bagian terakhir ini jaraknya sangat jauh dari postingan terakhir karena beberapa hal. Makin lama ditinggal, makin malas untuk melanjutkan tulisan ini. Akhirnya lupa beberapa yg mau ditulis. Daripada makin menghilang di pikiran, sepertinya harus dipaksa dilanjutkan.

Tanpa banyak basa-basi kita lanjut saja bacaan ini.

Pergundikan

Indonesia di jaman dulu itu ada budaya yang sangat merugikan wanita. Posisi wanita bisa dibilang lemah sebagai istri (itu pun kalau jadi istri). Sudah hal lumrah kalau raja di jaman dulu itu punya beberapa selir. Selir itu istri yang kedudukannya lebih rendah dari permaisuri, biasanya keperluannya sebagai pemuas ‘urusan itu’ raja. Di tertralogi ini tidak terlalu membahas masalah ini tapi masalah lain yang mirip-mirip. Yaitu pergundikan.

Di masa kolonial, orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia kebanyakan adalah pria. Masih sedikit wanita Belanda. Maka untuk keperluan ‘itu’, mereka mengambil wanita-wanita pribumi. Bukan dijadikan istri tapi gundik karena status pribumi yang di bawah totok. Biasanya gundik itu adalah wanita yang diserahkan orang tuanya ke tuan Eropa mereka ini. Tidak ada wanita yang sukarela jadi gundik. Karena gundik tidak punya hak asasi yang sepantasnya. Karena mereka memang bukan istri sah.

Salah satu tujuan pergundikan bagi orang tua wanita adalah untuk menyenangkan sang majikan dan mungkin bisa mendapatkan jabatan yang bagus di tempat kerja. Kasarannya adalah anak mereka dijual ke orang Belanda demi sebuah jabatan.

Di buku pertama terdapat kisah wanita perkasa bernama Nyai Ontosoroh yang mengelola bisnis Tuan Mellema. Bukan sembarang gundik. Gundik yang cerdas karena keadaan yang memaksa. Cerita dia mulai dari gadis desa biasa sampai menjadi wanita berpengetahuan luas dan segala macam intrik emosi dia terhadap keluarga yang menjualnya.

Dari pergundikan inilah muncul golongan Indo alias golongan darah campuran.

 Samin

Ada 1 golongan yang lumayan menarik tingkah lakunya di era penjajahan (sampai sekarang). Yaitu ajaran Saminisme. Berasal dari nama pendirinya Samin Surosentiko. Ajaran ini sempat disinggung sekilas di tetralogi ini karena merepotkan pemerintah kolonial. Mereka tidak mematuhi pemerintah salah satunya dengan tidak membayar pajak. Sebenarnya dibandingkan organisasi/kelompok lain di era itu, Samin bisa dibilang kelompok lugu, polos, dan jujur. Mereka tidak memakai kekerasan ataupun politik untuk melawan penguasa.

Sepertinya mereka memang ingin hidup damai tanpa gangguan luar. Mereka hidup tertutup dari dunia luar dan baru tau Indonesia merdeka di tahun 70an. Secara etnis mereka adalah orang Jawa, tapi tidak mengenal tingkatan bahasa. Bahasa yang dipakai adalah Jawa Ngoko (tingkatan paling bawah). Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan.

Bagi yang belum mengerti, bahasa Jawa itu ada tingkatannya. Berbicara dengan yang seumuran dan dengan yang lebih tua, orang Jawa memakai kosakata yang berbeda. Seperti di bahasa Indonesia, kita bisa ngomong ‘kamu’ ke teman tapi tidak bisa ke orang tua.

Populasi mereka sedikit. Berlokasi di sekitar Blora Jawa Tengah (tempat lahir Pram). Beberapa ajaran Samin adalah seperti berikut :

  • tidak bersekolah,
  • tidak memakai peci, tapi memakai “iket”, yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu,
  • tidak berpoligami,
  • tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut,
  • tidak berdagang, dan
  • penolakan terhadap kapitalisme.

 

Seperti segitu dulu rangkaian tulisan ini. (Kok cuma segini tulisannya?) Saya sudah lupa apa yang mau ditulis karena terlalu lama jaraknya dari tulisan sebelumnya. hehe,,

Sekian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: