Cerita dari Bali Marathon 2019

Bulan september ini Bali punya acara. Namanya Maybank Bali Marathon, salah satu acara lari internasional terbesar di Indonesia pada 8 September 2019. Ada 3 jarak yang dipertandingkan, Full Marathon (42K), Half Marathon (21K), dan 10K.

Tahun ini adalah yang pertama kalinya aku ikut lomba lari ini dan juga pertama kalinya berpartisipasi di Half Marathon. Sebuah keputusan agak nekat karena ketika mendaftar lomba ini bulan Maret kemarin, aku belum pernah sama sekali ikut serta 10K.

Pikirku adalah ini acara besar, kalau ikut yang 10K terlalu sebentar dan marathon masih terlalu jauh. Jadi dipilih lah yang tengah-tengah. Masih ada waktu setengah tahun untuk mempersiapkan fisik dan mental. Persiapan lain adalah dengan mengikuti 10K di lomba yang skalanya lebih kecil.

Salah satu alasan lain ikut MBM 2019, sekalian liburan ke Bali. Baru pertama kali kesana nih. Haha.

Seminggu sebelum lomba, aku sudah siap apa saja? Aku sudah melewati 2 lomba lari. Cheers Trail Run 2019 12K dan Bhayangkara Run 2019 10K.

Yang jadi masalah adalah selama ini aku latihan belum tembus lari diatas 10K. Apakah aku siap? Apakah aku bakal kuat menyelesaikan lari ini?

Jelas di lari kali ini aku tidak bisa menggunakan kecepatan yang sama seperti ketika 10K, yaitu di atas 6 menit/km. Dengan pace segitu, harusnya waktu tempuhku sepanjang 21KM adalah sekitar 2 jam 10 menit. Karena aku belum tentu kuat lari stabil sepanjang itu dengan kecepetan segitu, aku menargetkan finish di kisaran 2 jam 45 menit.

Lari kali ini aku bakalan lari santai saja sambil menikmati pemandangan indah Bali di sepanjang perjalanan. Pada kenyataannya, rencanaku buyar semua. Gara-gara orang ini.

Continue reading “Cerita dari Bali Marathon 2019”

Dian

Mataku terpejam, tapi tubuh tak mau mengalah. Sudah 2 jam ku berbaring di kasur, tapi rasa kantuk pun tak ada. Padahal tak setetes kopi pun ada yang ku minum hari ini. Aku harus bangun pagi. Ku lihat jam dinding menunjukkan jam 1 malam. Padahal belum lama aku melihat jarum jam masih di angka 11.

Coba kupejamkan mata ini sekali lagi, mungkin kali ini aku bisa tenggelam dalam lelap. Pikiranku kosong, pandanganku gelap, aku bisa mendengarkan nafasku sendiri, dan suara ayam berkokok. Ayam berkokok? Ku buka mata, ku lihat ke arah jam dinding yang telah menunjukkan jam setengah 7.

Astaga! Setengah jam lagi aku pintu gerbang sekolah akan tutup. Aku lompat berlari menuju kamar mandi. Tak sampai 10 menit aku sudah berada di motor bapak yang mengantarku ke sekolah.

Sepuluh menit kemudian, bapak menurunkanku di depan gerbang sekolah. Lega rasanya masih ada waktu 10 menit sebelum pagar ditutup. Tepat sebelum memasuki pintu kelas, ada suara memanggil dari jauh. Ternyata Dian yang memanggilku.

“PR matematika minggu lalu sudah kamu kerjakan?” tanya Dian santai.

“PR apa? Oh, tidak! Aku lupa! Bisa dimarahi Bu Nana nih,” aku panik.

Kelas akan dimulai 10 menit lagi. Tidak mungkin sempat menyelesaikan PRnya sekarang. Badanku lemas, tanganku gemetar. Bu Nana terkenal galak. Aku bakal dihukum berdiri di depan kelas. Sebagai juara kelas, mendapat hukuman ini adalah suatu aib.

“Tenang. Kamu bisa lihat punyaku kok. Ayo ikut aku! Jangan sampai kamu kelihatan disini menyalin kerjaanku.” kata Dian mengajakku ke belakang aula.

Aku terpaksa mengikuti Dian ke belakang aula. Tempat ini sepi, jarang ada yang melewati. Satu-satunya ada anak yang lewat sini adalah ketika jam istirahat. Itu pun tak banyak.

“Aman? Oke aku salin disini saja.” mataku melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada saksi.

Dian membuka tas dan mengambil buku tulis. Memberikannya kepadaku. Aku menyalin persis semua hasil Dian tanpa meneliti apakah benar atau salah karena prioritasku saat ini adalah jangan sampai terkena hukuman.

Tak sampai 5 menit aku menyalin, aku menyadari satu hal. Dian bukan teman sekelasku.

“Dian, kita kan ga sekelas. Ngapain kamu nawarin aku tugasmu? Guru kita kan beda.”

“Mana ku tahu. Sini bukuku!” Dian menarik bukunya.

“Eh, tunggu!” teriakku.

Dian berlari ke ujung belokan aula. Aku langsung mengejar dia. Sesampainya di belokan, aku dikejutkan oleh Bu Nana yang sudah berdiri di depanku.

“Hayo, kamu menyontek ya!”

Seketika air membasahi mataku, jantung berdegub keras, aku berlari ke arah berlawanan menghindari Bu Nana.

“Maaf bu, aku janji ga akan menyontek PR lagi”

Aku balik badan, berlari, dan menangis. Aku malu. Tapi tubuhku rasanya berat. Kenapa aku tak bisa berlari. Semakin ku berusaha keras semakin lambat lariku.

Mataku terbuka, aku kembali di kamar. Ku lihat sinar matahari menembus tirai jendela. Aku cuma mimpi. Kenapa juga aku bermimpi masa-masa SDku? Sudah 20 tahun yang lalu sejak aku meninggalkan bangku SD. Ku hanya bisa tersenyum.

Hari ini tugas-tugas dari bos sudah ku kerjakan semua. Masih banyak waktu sebelum pulang. Aku jadi ingat mimpi semalam. Dian adalah teman dekatku ketika SD. Tapi Dian bukan teman sekelasku, bahkan dia bukan teman nyataku. Dia adalah teman imajinasiku.

Ketika SD aku dianggap aneh oleh teman sekelas. Aku lebih senang bermain sendiri dibanding dengan teman-teman lainnya. Aku lebih senang bermain dengan “sahabatku” Dian di belakang aula. Ketika teman-teman mengajak makan di kantin, aku lebih suka menghabiskan bekal buatan mama di tempat yang sama. Tentu saja dengan Dian yang selalu setia menemaniku.

Entah kenapa aku tidak bisa berbaur dengan teman-teman nyataku. Dian adalah pendengar yang baik. Dia yang selalu memahamiku. Aku memproyeksikan suatu sahabat yang ideal ke Dian.

Aku tak tahu sejak kapan Dian muncul di dalam hidupku. Mungkin kelas 1 atau 2, aku tak ingat. Bahkan aku tak tahu sejak kapan Dian hilang. Yang jelas di tahun-tahun terakhirku SD, aku tak pernah mengunjungi lagi areal belakang aula dan Dian pun tak pernah muncul lagi.

Ah, aku kangen sekali suasana SD-ku itu. Mungkin ini pertanda aku harus mengunjungi sekolah itu. Kebetulan ada Lutfi, teman sekelasku dulu, yang sekarang menjadi guru disana. Segera aku kirim pesan ke Lutfi, untuk mengabari bahwa aku akan main ke sekolah itu.

Aku berdiri di depan gerbang sekolah. Tak banyak berubah dari tempat ini semenjak 20 tahun lalu kumeninggalkan sekolah ini. Suasananya sepi tapi tak terlalu senyap karena ini masih jam pelajaran. Dari jauh aku melihat Lutfi keluar dari pintu kelas dan melambaikan tangan ke arahku. Aku bergegas mendatanginya.

“Hey, apa kabar? Aku sekarang mengajar di ruangan kelas kita dulu lho. Ayo kesini ku perkenalkan ke murid-muridku.” sambut Lutfi.

Aku diperkenalkan oleh Lutfi di depan murid-muridnya. Dia bercerita bahwa aku dan dia adalah lulusan sekolah ini. Aku juga bercerita tentang masa-masa sekolah dulu. Perkenalan tak sampai 15 menit, aku pamit undur diri ke murid-murid lucu harapan masa depan ini.

“Kamu jangan pulang dulu ya, bantu-bantu kami buat acara setelah jam istirahat.” kata Lutfi.

“Acara apa?” tanyaku.

“Tujuhbelasan! Tepat sekali kamu datang hari ini. Bakal ada acara lomba-lomba buat murid-murid.”

Aku menyetujui permintaan Lutfi. Kenapa tidak? Toh, aku sedang banyak waktu sekarang. Sekalian aku mau keliling-keliling gedung sekolah untuk sekedar nostalgia.

Tempat yang pertama ku datangi pertama kali tentu saja adalah areal belakang aula. Tempat ini berada paling ujung samping sekolah. Jarak antara aula dan pagar sekitar 1 meter. Dan sekarang tempat ini menjadi lebih gelap dari yang ku ingat karena sinar matahari tertutup oleh ruko yang berdiri tinggi di seberang pagar. Dulu disana adalah area kosong.

Yang tidak berubah adalah areal ini masih sepi seperti dulu. Jarang ada anak-anak yang mau main di tempat ini. Sekedar lewat pun tidak ada.

Ku lihat banyak coretan di tembok. Disini aku biasa mencoret-coret bersama Dian. Ku coba lihat seksama, tak ada lagi coretanku disini. Sudah berapa kali dinding ini dicat ulang? Walaupun sepi ternyata masih ada yang bermain disini. Suara keras bel membangunkanku dari lamunan. Sudah waktunya istirahat.

Acara lomba berjalan ramai dan lancar. Aku ikut membantu guru-guru mengatur murid-murid yang ikut lomba. Tapi ada satu kejadian yang bikin aku bertanya-tanya. Nama anak ini adalah Sukma. Ketika dipanggil untuk segera mengikuti lomba, dia hanya duduk diam ngambek di pinggir lapangan.

“Kenapa dik? Ayo segera ke lapangan!” bujukku.

Ga mau. Aku ga mau ikut lomba. Aku maunya lomba sama Dian. Tapi dia ga mau kesini.” rengek Sukma

“Dian sekarang dimana?” tanyaku.

Sukma tak menjawab. Hanya menunduk kesal.

“Dian siapa sih, nak? Di sekolah ini ga ada yang namanya Dian. Ayo ikut lomba, jangan banyak alasan!” perintah Lutfi agak keras.

Aku tak bisa berkata-kata apa. Apakah ini cuma kebetulan? Apakah ini Dian yang sama dengan yang ku temui dulu. Apakah Dian itu “nyata”? Aku tak tahu.

500 days of Summer, 10 tahun kemudian

Just because she likes the same bizzaro crap you do doesn’t mean she’s your soul mate.

Rachel Hansen

Bulan Juli 2009, 500 days of Summer rilis. Film ini saya tonton ketika masih jaman kuliah. Saya sendiri tidak pernah menyukai genre rom-com. Satu-satunya alasan menonton film ini adalah karena dibintangi oleh aktor favorit saya, Joseph Gordon-Levitt.

Layaknya film romantic-comedy pada umumnya, 500 days of Summer berkisah tentang 2 muda-mudi, Tom (Joseph Gordon-Levitt) dan Summer (Zooey Deschanel). Hubungan yang mereka jalin tiba-tiba runtuh. Sepanjang film kita akan melihat bagaimana usaha Tom untuk mengejar kembali Summer. Alur cerita ditampilkan secara non-linear. Kita akan disuguhkan cerita yang loncat-loncat dari ketika mereka berkenalan hingga nantinya putus.

Film ini kuanggap tidak terlalu istimewa dan mungkin hanya kuberi rating 7 atau 8. Dan yang paling penting Summer is a total bitch. Kenapa dia bisa begitu tega sama Tom.

Berangkat 10 tahun kemudian, saya mencoba menonton film ini dengan persepektif dan situasi yang berbeda. Film ini langsung menjadi favorit saya, dengan rating 10. haha

Akan saya jelaskan kenapa. Tulisan ini bukan review, hanya unek-unek pendapat bias saya tentang film ini. Tentu saja spoiler. Jangan diteruskan baca kalau belum menonton.

Continue reading “500 days of Summer, 10 tahun kemudian”

Chester Bennington

Hari jumat kemarin, 21 Juli 2017, adalah hari yang kelam buat saya (dan seluruh dunia). Baru kali kematian selebritis bisa begitu nyesek. Berita kematian selebritis adalah hal yang biasa terjadi. Orang datang dan pergi. Tapi untuk orang yang satu ini, berbeda. Dia adalah Chester Bennington, vokalis Linkin Park.

@chesterbe

Jika anda adalah generasi 90an yang berusia diantara pertengahan 20an sampai 30, pasti mengenal Linkin Park. Mereka band yang sangat masif di awal 2000an. Dimana diwaktu itu adalah eranya generasi 90an memasuki masa remaja. Masa ketika mereka bertransisi dari anak-anak menuju dewasa. Dimana mereka meninggalkan idola masa kecil mereka dan beranjak ke idola yang relevan dengan mereka.

Masa remaja adalah pada umumnya adalah fase paling labil yang dialami manusia. Masa yang katanya pencarian jati diri. Di saat itu lah Linkin Park menginspirasi kehidupan jutaan remaja di seluruh dunia. Walaupun saya sendiri saat itu tidak terlalu begitu paham 50% lirik-liriknya, tapi entah kenapa lagu-lagu mereka bisa begitu relevan. Kita bisa mendengarkan “kemarahan” khas remaja. Terutama di lagu Crawling yang melambungkan nama mereka. Lagu ini adalah lagu pertama Linkin Park yang saya dengar. Baru beberapa tahun kemudian saya tahu kalau lagu ini adalah pengalaman Chester yang memiliki masa lalu yang kelam.

Jika diperhatikan, banyak lagu Linkin Park cerita tentang perjuangan personal dari Chester. Dari beberapa wawancara, Chester sering bercerita di masa mudanya, dia pernah menjadi korban pelecehan seksual temannya, korban bullying, dan menjadi pemakai obat-obatan terlarang. Singkat cerita, banyak remaja di seluruh dunia yang merasa bahwa lagu-lagu Linkin Park telah membantu mereka melewati masa-masa kelam.

Buat saya sendiri, walaupun hidup normal-normal saja dan tanpa lika-liku yang tragis, Linkin Park sudah menjadi bagian dari masa remaja saya. Ada sekitar 3-4 poster Linkin Park di kamar, untuk menunjukkan betapa “cool” dan “edgy” saya waktu itu. Di era youtube belum ada dan google baru memulai perjalanannya, MTV adalah tontonan wajib saya untuk selalu update berita idola. Istilah kerennya waktu itu adalah anak nongkrong MTV. Dan tak lupa koleksi kaset 3 album pertama mereka, Hybrid Theory, Reanimation (remix Hybrid Theory), Meteora. Ya, KASET!! Jaman itu masih relevan.

Sayangnya 3 kaset itu tidak bisa saya tunjukkan karena berada di rumah orang tua. Saya tampilkan saja gambar dari teman. Kira-kira seperti itu kasetnya, ditambah album paling populer mereka Hybrid Theory. Hampir tidak ada yang tidak tahu siapa Linkin Park. Begitulah kira-kira gambaran masifnya LP di awal 2000.

Maju di tahun 2007, Linkin Park telah banyak berubah. Mereka telah meningkalkan nu metal yang melambungkan namanya. Banyak fans yang kecewa dan meninggalkan mereka. Tak sedikit pula yang bertahan. Saya adalah salah satu yang bertahan. Saya terus mengikuti naik turunnya mereka. Pergantian genre ke alternatif di album ke-3 mereka, Minute to Midnight. Yang paling kukenang dari album ini adalah waktu rilisnya 14 Mei 2007. Pada tanggal 12 Mei 2007, beberapa hari setelah UAN/UAS SMA, saya harus meninggalkan kota Bontang menuju Surabaya untuk melanjutkan kuliah. Lebih tepatnya adalah mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan seleksi masuk perguruan tinggi (waktu itu namanya SPMB).

Mendengar lagu What I’ve Done, saya merasa kembali di saat-saat saya harus ekstra keras belajar siang & malam agar bisa diterima PT pilihan saya, ITS jurusan Teknik Informatika. Yang katanya passing gradenya lebih tinggi dari FK Unair. Dan Alhamdulillah, saya diterima. Ditambah lagi deretan lagu Leave out all the rest, Bleed it out, In Pieces, dan lainnya, mengingatkan kenangan betapa kesepiannya saya ketika awal menginjakkan kaki di Surabaya.

Dan terus ke album selanjutnya A Thousand Suns, Living Things, The Hunting Party, dan One More Light saya selalu antusias mengikuti. Kalau harus diceritakan satu persatu kenangannya disini, bakal ga ada habis-habisnya. Ketika jumat pagi, 21 Juli 2017, saya mengecek instagram, muncul post dari akun LP ini.

Aku kira hanya gambar biasa Linkin Park sampai melihat komentar-komentarnya. Ada apa dengan Chester? Orang yang telah mengisi masa mudaku telah tiada karena gantung diri. Pada hari itu juga mood langsung ga enak sepanjang hari. Rasanya seperti kehilangan seorang teman lama. Sulit untuk memahami bagaimana mungkin seorang menginspirasi jutaan anak muda, ternyata juga sangat rapuh di dalam.

Entah bagaimana kelanjutan Linkin Park tanpa Chester. Menurutku, meninggalnya Chester adalah akhir dari Linkin Park. Mereka telah solid bersama selama hampir 2 dekade. Ketika ada 1 bagian yang hilang, maka sulit untuk melihat Linkin Park yang dulu. Mungkin mereka bisa meniru RATM, ketika sang vokalis pisah jalan, 3 personel lainnya memutuskan membentuk band baru dengan vokalis baru dengan nama Audioslave. Kebetulan vokalisnya adalah Chris Cornell, sahabat Chester, yang juga baru 2 bulan lalu meninggal dengan cara yang sama, gantung diri. Menurut berita, menjadi salah satu sebab Chester bunuh diri juga. Apapun keputusan mereka, saya akan tetap menjadi fans Linkin Park.

Lagu ini adalah salah satu lagu favorit LP. Mendengar lagi lagu ini, menimbulkan perasaan yang berbeda. Rasanya seperti mendengar suicide note dari Chester.

When my time comes
Forget the wrong that I’ve done
Help me leave behind some
Reasons to be missed
And don’t resent me
And when you’re feeling empty
Keep me in your memory
Leave out all the rest
Leave out all the rest

Selamat jalan Chester Bennington.

Spontan

Ini bukan mau ngebicarain acaranya Komeng yang ngehits di tahun 90an (uhuy!). Tapi ini adalah cerita pengalaman saya minggu lalu.

Hari Sabtu, 16 April 2016, seperti biasa saya melakukan rutinitas. Sabtu ini suasana lagi sepi, soalnya banyak temen yang lagi pulkam. Tiba-tiba ada watsap dari Jamal yang isinya seperti ini.

Supp bruh, DO U CoM 2 Silvi’s wedding? (isi teks hanya ilustrasi)

Saya ga inget klo hari itu ada nikahan seorang teman jaman kuliah. Akhirnya setelah debat panjang, kami sepakat untuk kumpul dulu di suatu studio teman bernama ElvenGames. Kumpul jam 6 abis magrib.

Di Elven, ada 3 teman lain yang sedang main & nonton DoTA2. Jadi mereka males ga bisa ikut. Padahal jarak lokasinya hanya sepelempar batu.

Okelah akhirnya saya & Jamal pergi ke Gedung Robotika ITS, tempat resepsi.

robot-wedding-2-634x422
Gedung Robot yang bisa dipake buat acara nikahan

Ternyata ada satu teman lagi hadir ke acara nikahan. Jauh-jauh datang dari Jember, namanya Gama, sang kapten masa depan. Untung saja masih ada teman kuliah cewek yang datang, jadi kami enggak mati gaya.

Lanjut beberapa menit kemudian, kami akan pulang kembali ke pasangan masing-masing (yang mana sebenarnya 3 orang ini ga punya). Awalnya cerita akan berakhir disini. Namun, entah kenapa saya & Jamal memaksa Gama untuk ikutan ke Elven. Motor saya dititipin disana, jadi harus balik kesana dlu.

Akhirnya setelah panjang lebar berdebat kusir, Gama mau diajak ke Elven. Maka akhirnya kami cerita panjang lebar nostalgia masa kuliah. Oke waktu telah menunjukkan pukul 22.00, harus segera pulang, jika tidak mama akan marah.

Di saat mau pulang, aku bilang biasanya kalo hari minggu jogging di CFD Darmo. Sebelum pulang, akhirnya kami bertiga sepakat untuk ketemuan lagi besok untuk CFD-an.

Keesokan harinya, Gama & Jamal datang jam 6 pagi kumpul ditempatku di area Ngagel.  Lalu lanjut jogging & ikutan senam zumba. Acara selesai, pulang jam 9. Kami ngobrol-ngobrol santai. Harusnya sudah berakhir sampai sini. Gama tiba-tiba mengajak nonton The Jungle Book. Terutama karena lokasiku yang dekat dengan Marvell, mall yang baru buka. (Di Blitz Marvell ini satu-satunya aku pernah nonton ke bioskop jalan kaki).

Sebenarnya lagi agak males nonton. Tapi berhubung Gama lagi kebelet pengen nonton, ya akhirnya saya iya-kan. Lagipula sore itu dia harus kembali ke Jember. Mungkin di Jember ga ada beoskop.

Kali ini hanya saya & Gama, soalnya Jamal harus menghadiri pernikahan temannya yang lain. Tahun ini lagi musim kawin teman-teman seusiaku. Di usia 26-27 memang seyogyanya kalian nikah.

Di saat yang lain berkumpul bersama pasangan masing-masing, saya disini sedang menulis blog yang mungkin ga akan ada yang baca kecuali orang ini –> http://dnwahyudi.com/

maxresdefault
me_irl

Ok, back to topic. Gama memilih jam 11 siang, karena biar ga mepet sama keberangkatan keretanya jam 4 sore. Jamal & Gama pulang ke tempat masing-masing. Gama akan kembali ke tempatku jam setengah 11.

Hari minggu adalah waktunya cuci baju & cuci kucing. Karena waktu itu hujan turun saya tunda dulu cucinya. Badan lumayan capek, saya berbaring lantai & ketiduran.

Bangun-bangun, Gama sudah datang. Jam telah menunjukkan jam 11 kurang 15 & masih hujan. Wah ga bakal sempet nonton jam 11 ini. Kami pun mengganti lokasi & jadwal ke TP jam 12.15.

Saya mandi dulu & cuci baju (ini tidak penting). Filmnya lumayan bagus, The Jungle Book, yang disutradarai oleh Jon Favreau (Iron Man, Chef). Film selesai, saatnya pulang. Tapi lagi-lagi tidak, sodara2!

Gama bilang dia masih punya saldo Rp40.000 sebuah wahana di TP (aku lupa namanya, semacam temjon). Dia lagi pengen nyoba lagi wahana perahu yang digoyang-goyang itu lho. Kalo di dufan namanya kora-kora. Tidak seekstrim kora-kora, tapi tetep bikin jantung dagdigdug.

Sebelum menuju lokasi, tiba-tiba saja saya pengen ke Matahari. Mumpung lagi di sana, dari kemarin mau cari celana pendek. Selesai menemukan apa yang dicari, kami lanjut ke wahana itu.

Niatnya cuma naik kora-kora, tapi malah keterusan nyoba yang lain. Bablas sampai magrib. Gama memutuskan untuk naik kereta malam. Karena uda magrib, kami sholat di lantai atas Tunjungan Plasa.

Lagi-lagi, Game mendapat ide untuk pergi ke pameran wisata (WTF!!) di Grand City. Dari TP, perjalanan lanjut ke Grand City. Demi apa coba aku datang ke pameran.

Badan uda letih, lelah, & capek. Tak boleh ada lagi tujuan selanjutnya. Dan kami pun kembali ke tempat masing-masing.

TL;DR : seharusnya malam minggu setelah nikahan teman, pulang ke rumah masing-masing. Tapi muncul ide spontan, dan akhirnya baru berpisah sehari kemudian.

Sekian cerita ini.

nb: Cerita terjadi 2 minggu lalu, ditulis seminggu lalu, tapi baru sadar belum dipublish, jadi baru tayang hari ini (May Day 2016).

Hindari pikiran negatif

Kita semua pasti pernah punya pengalaman melihat sesuatu selalu negatifnya. Hanya dari buruknya tanpa melihat sama sekali hal positifnya. Seperti permasalahan apakah dia melihat gelas setengah penuh atau gelas setengah kosong. Dua hal yang sebenarnya sama aja, tapi secara psikologis 2 reaksi yang berbeda. Optimis & Pesimis.

Di TEDx Talks ini, Alison Ledgerwood berbicara tentang psikologis orang-orang yang berpikiran negatif.

Dia mengambil contoh penelitian, dibagi menjadi 2 grup yang akan diberi data yang sama. Grup A mendapat hasil data 40% keberhasilan. Grup B mendapat data 60% kegagalan. Maka grup A akan merespon dengan positif sedangkan grup B dengan negatif.

Kemudian percobaan dilanjutkan dengan grup A diberi data 60% kegagalan dan grup B 40% keberhasilan. Hasilnya adalah respon grup A menjadi negatif. Dan ternyata grup B tidak berubah positif, tetapi tetap menjadi negatif. Karena untuk merubah pikiran positif menjadi negatif lebih gampang daripada merubah pikiran negatif ke positif.

Inilah salah satu fenomena yang lagi ngehits di kehidupan modern ini, yang disebut haters. Terutama yang paling sering muncul di facebook adalah barisan sakit hati akibat pemilu. Biasanya kalau sudah mulai muncul di fb, maka segera ku block saja karena hal negatif gampang menular, bikin bad mood, dan merusak produktivitas. (nb: saya bukan pendukung salah satu 2 orang itu).

Maka berhati-hatilah & stay positive!

Hints on English pronunciation

Klo diperhatikan bahasa inggris termasuk bahasa yg ga konsisten dalam pengucapan kata. Misalnya bagaimana kita tau kalau red itu dibaca ‘red’ atau ‘rid’. Mungkin untuk kata red gampang karena merupakan kata yg familiar. Entah bagaimana dengan kalimat baru yg tidak familiar. Aku ingat dulu waktu masih kecil, keheranan dengan cara pengucapan “enough”. Kata ini pertama saya temukan di film James Bond, “The world is not enough”.

Gimanapun juga, ketidakkonsistenan bahasa adalah kewajaran. Banyak kata bahasa inggris yg merupakan serapan bahasa lain dan harus ikut aturan main bahasa lain itu. Sama seperti yg terjadi di bahasa Indonesia. Coba lihat nama stasiun TV mana yang ada huruf “TV” yang pengejaannya benar sesuai bahasa Indonesia. Cuma SCTV (eSCeTeVe) yang benar. Yang lainnya salah karena mengeja TV dengan “tivi”. Tapi berhubung TV adalah kata dari bahasa Inggris, maka biasanya orang lebih familiar ejaan luarnya.

Tapi kalau kata orang sih, bahasa Inggris bukan bahasa tersusah yang dipelajari. Jadi jangan mengeluh bahasa Inggris susah. Padahal kita sudah di jaman internet. Mayoritas ditulis dengan bahasa Inggris.

Mari kita tutup tulisan ini dengan “Hints on English pronunciation”

I take it you already know
Of tough and bough and cough and dough?
Others may stumble, but not you,
On hiccough, thorough, lough and through?
Well done! And now you wish, perhaps,
To learn of less familiar traps?
Beware of heard, a dreadful word
That looks like beard and and sounds like bird,
And dead: it’s said like bed, not bead —
For goodness sake don’t call it ‘deed’!
Watch out for meat and great and threat
(They rhyme with suite and straight and debt).
A moth is not a moth in mother,
Nor both in bother, broth in brother,
And here is not a match for there
Nor dear and fear for bear and pear;
And then there’s dose and rose and lose —
Just look them up — and goose and choose,
And cork and work and card and ward,
And font and front and word and sword,
And do and go and thwart and cart —
Come, come, I’ve hardly made a start!
A dreadful language? Man alive!
I’d mastered it when I was five!